![]() |
| Ilustrasi: Seseorang dengan tatapan kosong dengan tangan melambai ke arah orang yang pergi saat matahari terbenam, menggambarkan perasaan kehilangan dan penyesalan. |
Ada hal-hal yang baru terasa penting setelah tidak lagi ada.
Kita mungkin pernah punya seseorang yang selalu bisa dihubungi. Karena terlalu terbiasa, pesan darinya kadang dibiarkan. Teleponnya tidak selalu diangkat. Ajakan bertemu sering ditunda dengan alasan masih ada waktu.
Kemudian keadaan berubah.
Orang itu mulai sibuk. Tidak lagi sering menghubungi. Atau hubungan yang dulu dekat perlahan menjadi jauh.
Barulah muncul perasaan yang berbeda.
“Kok sekarang jadi terasa sepi, ya?”
Padahal tidak ada yang berubah secara tiba-tiba. Yang berubah mungkin hanya satu hal: kita mulai menyadari bahwa sesuatu yang dulu selalu ada ternyata tidak selamanya akan tetap ada.
Karena Terlalu Terbiasa, Kita Berhenti Memperhatikan
Sesuatu yang hadir terus-menerus mudah dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan.
Kita terbiasa dengan suara orang tua di rumah. Terbiasa dengan teman yang selalu mengajak berbicara. Terbiasa dengan pekerjaan yang setiap hari kita jalani. Terbiasa dengan tempat yang setiap hari kita lewati.
Karena selalu ada, kita tidak merasa perlu memberikan perhatian khusus.
Ini bukan berarti kita sengaja tidak peduli.
Sering kali kita hanya merasa bahwa besok masih ada.
Besok masih bisa menghubungi.
Besok masih bisa berkunjung.
Besok masih bisa memperbaiki.
Perasaan bahwa “masih ada waktu” membuat kita santai terhadap sesuatu yang sebenarnya berharga.
Sampai Suatu Hari Keadaannya Berubah
Ketika sesuatu mulai hilang, perhatian kita ikut berubah.
Orang yang biasanya selalu menghubungi tiba-tiba tidak lagi mengirim pesan. Rumah yang dulu ramai menjadi lebih sepi. Pekerjaan yang dulu kita keluhkan justru mulai terasa dirindukan setelah kita tidak lagi memilikinya.
Di sinilah kita sering menemukan sesuatu yang agak menyakitkan:
Kita ternyata baru benar-benar memperhatikan sesuatu setelah keberadaannya tidak lagi terjamin.
Bukan karena nilainya tiba-tiba bertambah.
Kita saja yang akhirnya melihat nilainya.
Rasa Kehilangan Membuat Pikiran Melihat Sesuatu Secara Berbeda
Selama sesuatu masih berada dalam kehidupan kita, kita merasa aman.
Tidak ada dorongan kuat untuk memikirkannya.
Namun ketika kemungkinan kehilangan muncul, pikiran mulai memberikan perhatian lebih besar.
Kita mengingat percakapan yang dulu dianggap biasa.
Kita mengingat kebiasaan kecil yang dulu tidak pernah diperhatikan.
Kita mulai menyadari bahwa hal-hal yang dahulu terasa mengganggu ternyata juga bagian dari sesuatu yang kita sayangi.
Itulah sebabnya kehilangan kadang membuat kita melihat masa lalu dengan cara yang berbeda.
Ada Perbedaan Antara Tidak Peduli dan Terlalu Terbiasa
Tidak semua sikap acuh berarti seseorang tidak memiliki perasaan.
Kadang seseorang bersikap biasa saja justru karena merasa sesuatu itu aman.
Misalnya, kita jarang mengatakan kepada keluarga bahwa kita menyayangi mereka. Bukan karena tidak sayang, tetapi karena dalam pikiran kita, keluarga selalu ada.
Begitu pula dengan seorang teman.
Kita mungkin tidak pernah mengatakan bahwa kehadirannya penting karena hubungan tersebut terasa begitu biasa.
Masalahnya, manusia sering baru menyadari nilai sesuatu ketika rasa aman itu terganggu.
“Nanti Saja” Kadang Menjadi Kebiasaan
Ada satu kata yang sering membuat kita menunda perhatian: nanti.
Nanti saya telepon.
Nanti saya datang.
Nanti saya balas.
Nanti saya minta maaf.
Nanti saya bicara.
Nanti masih ada kesempatan.
Satu kali mungkin tidak masalah.
Tetapi kalau terus dilakukan, “nanti” bisa menjadi kebiasaan.
Sementara itu, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah kesempatan yang sama akan tetap tersedia.
Bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan bahwa semuanya akan hilang. Kita hanya perlu menyadari bahwa tidak semua keadaan bersifat permanen.
Ketika Penyesalan Datang Belakangan
Penyesalan sering muncul bukan karena kita melakukan sesuatu yang buruk, tetapi karena kita tidak melakukan sesuatu ketika masih memiliki kesempatan.
Kita ingin menghubungi seseorang, tetapi terus menunda.
Kita ingin mengucapkan terima kasih, tetapi merasa tidak perlu.
Kita ingin memperbaiki hubungan, tetapi menunggu suasana yang dianggap lebih tepat.
Kemudian kesempatan itu hilang.
Pada saat itulah muncul pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah:
“Kenapa dulu saya tidak melakukannya?”
Sayangnya, waktu tidak selalu memberikan kesempatan kedua.
Tetapi Tidak Semua yang Hilang Harus Dikejar Kembali
Ada sisi lain yang juga penting.
Kesadaran bahwa sesuatu bisa hilang bukan berarti kita harus mempertahankan semua hal.
Ada hubungan yang memang sudah tidak sehat.
Ada pekerjaan yang memang sudah waktunya ditinggalkan.
Ada kebiasaan yang justru perlu dihentikan.
Ada keadaan yang memang harus berubah.
Jadi, rasa takut kehilangan tidak boleh membuat kita mempertahankan sesuatu hanya karena kita takut menghadapi kehidupan tanpa hal tersebut.
Yang perlu dipahami adalah apa yang benar-benar bernilai dan apa yang hanya terasa penting karena kita takut kehilangan.
Mungkin Kita Tidak Perlu Menunggu Kehilangan
Kita tidak harus kehilangan seseorang untuk menghargai kehadirannya.
Tidak harus pergi jauh untuk merindukan rumah.
Tidak harus kehilangan kesempatan untuk menyadari bahwa kesempatan itu berharga.
Tidak harus mengalami perubahan besar untuk mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Kadang cukup berhenti sebentar dan melihat kehidupan yang sedang berjalan.
Siapa yang masih ada?
Apa yang masih kita miliki?
Kesempatan apa yang masih terbuka?
Pertanyaan sederhana seperti itu bisa membuat kita lebih sadar terhadap sesuatu yang selama ini terlalu mudah dianggap biasa.
Penutup
Kita sering mengira sesuatu akan selalu ada karena selama ini memang selalu ada.
Itulah yang membuat kita lengah.
Kita menunda perhatian, menunda ucapan, menunda pertemuan, bahkan menunda rasa terima kasih karena merasa masih punya banyak waktu.
Padahal hidup tidak selalu berjalan sesuai perkiraan kita.
Mungkin karena itu, menghargai sesuatu tidak harus menunggu sampai kita takut kehilangannya.
Kalau seseorang penting, tidak ada salahnya menunjukkannya.
Kalau ada yang ingin kita ucapkan, tidak selalu harus menunggu waktu yang sempurna.
Sebab terkadang yang paling kita sesali bukan sesuatu yang pernah kita lakukan, melainkan sesuatu yang dulu masih bisa kita lakukan tetapi terus kita tunda.

Komentar
Belum ada komentar.
Tulis Komentar